BERPALINGLAH KEPADA PETANI

Jika ingin memperkuat perekonomian bangsa ini, berpalinglah pada sektor pertanian. Bukan sekadar slogan pada saat kampanye dengan cara mendatangi mereka, bercaping dan turun ke sawah, tapi setelah menjabat kemudian pak tani ditinggalkan. Sebelas juta hektar lahan sawah adalah potensi yang belum tergarap maksimal. Ditambah dengan Irigasi banyak yang rusak dan harga pupuk terus melonjak. Ironis negeri ini. Mengaku sebagai negara agraris tapi para petaninya hidup di bawah garis kemiskinan. Impor pangan kita menggerus dana dari APBN hingga 5, 4 triliun setahun. Rupanya, para pejabat kita lebih suka main impor dibandingkan dengan memberdayakan petani untuk memenuhi pasar lokal.

Pertanyaannya, apakah para petani tidak mendapat bantuan dana dari bank? Bagi petani institusi seperti bank terlalu rumit dengan berbagai persyaratan. Keadaan ini diperparah oleh pandangan para bankir, bahwa sektor pertanian itu berisiko tinggi (high risk) karena sangat tergantung pada musim. Dua pandangan yang selama ini dipertahankan oleh keduanya dan tidak pernah menemukan titik temu. Lalu kemana petani mendaparkan dana cepat? Tengkulak! itu jawabannya. Tengkulak yang mencekik leher dengan bunga tinggi itu, masih menjadi primadona karena tidak butuh persyaratan rumit dan langsung cair.

Inilah lahan yang sepantasnya digarap oleh perbankan syariah. Dari sisi karakter, banyak kesamaan antara pola hidup petani dengan bank syariah. Mungkin kita masih kenal, di Pulau Jawa dikenal istilah maro (pembagian hasil satu banding satu), mertelu (satu banding tiga) atau maro bathi (pembagian hasil untuk peternakan). Pola pembagian hasil pertanian dan peternakan itu adalah sebuah model, betapa para petani berupaya untuk bisa bekerja sama, baik antara petani pemilik sawah maupun yang  tidak punya (tapi punya tenaga atau bibit). Sementara itu, pada prinsipnya, bank syariah mendasarkan polanya pada kerjasama dan bagi hasil (karena itu bank syariah sering pula disebut bank bagi hasil). Tapi, apakah bank syariah memberikan kepedulian kepada para petani, yang menjadi tulang punggung perekonomian bangsa? Ternyata tidak juga.

Cara pandang para pengelola bank syariah tak jauh beda dengan bank konvensional. Bahwa pertanian adalah usaha berisiko. Dan bila para petani butuh dana, ya harus pake agunan. Mana ada petani yang punya agunan? Apalagi petani gurem yang hanya memiliki lahan setengah hektar saja.

Simak kucuran kredit dari bank syariah (bank syariah mana saja), dan pertahatikan berapa persen yang ditujukan kepada sektor pertanian? Tidak lebih dari 3 persen, itu pun sudah bagus. Selebihnya mereka kucurkan kredit kepada sektor industri dan jasa dan lain-lain.

Bank syariah sejatinya menjadi bank pelopor ekonomi kerakyatan, yang sebagian besar dilakukan oleh masyarakat di desa oleh para petani. Tapi, bila Anda datang ke desa dan menanyakan kepada warga desa, apakah mereka tahu bank syariah? Jawabnya memang tahu, tapi ketika ditanya apakah mereka pernah berurusan dengan bank syariah, saya yakin jawabnya adalah gelengan kepala.

Kekurangpedulian bank syariah bersentuhan dengan pertanian, disebabkan oleh jalan ekonomi yang ditempuh para pelaku ekonomi dan pengambil kebijakan bangsa ini. Yaitu jalan ekonomi berbasiskan liberal kapitalistik. Sehingga, meski bank syariah menjamur, toh itu hanya diperuntukkan bagi masyarakat kota yang berkantong tebal, para pengusah supermarket, properti, industri dan perhotelan. Petani tetap saja gigit jari.

Padahal, bila saja bank syariah mau turun ke desa, membantu permodalan petani, hasilnya pasti menggembirakan. Para petani bukanlah masyarakat yang suka ngemplang utang. Komoditas pertanian yang beragam itu adalah potensi yang membawa kemakmuran ekonomi kelas bawah. Ingat pengalaman krisis ekonomi 1997-1998, saat pertumbuhan ekonomi minus, sektor industri, jasa. properti dan bank hancur lebur, hanya pertanian yang pertumbuhannya positif. Saat itu, para petani kakao di Sulawesi kaya raya, petani udang labanya melimpah. Apalagi petani kelapa dan karet. Memang, itu pertanian sekali besar, tapi dampaknya tetap saja merembes ke petani kecil, yaitu buruh tani. Jadi, bila bank syariah ingin menjadi penopang ekonomi rakyat, berpalinglah kepada sektor pertanian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: